IBS

Sabtu, 22 Oktober 2011

Fastaqim Solution: FASTAQIM DZULQA'DAH (16)

Fastaqim Solution: FASTAQIM DZULQA'DAH (16): KORELASI ANTARA KECERDASAN DAN IMAN. 1. Orang cerdas sejati, hanyalah orang yang beriman. QS:Ash Shaf:10-11. 2. Orang cerdas hakiki ...

Rabu, 25 Mei 2011

FASTAQIM JUMADATS TSANIYAH (22)


SETENGAH JANDA SETENGAH DUDA.

Banyak Isteri yang TIDAK PUAS dengan Suaminya.
... Banyak juga Suami yang TIDAK PUAS dengan Isterinya.
Ketidak puasan melahirkan KEKECEWAAN.
Kekecewaan yang bertumpuk, ANCAMAN HAKIKI terhadap keutuhan RT.

Mengatasi kekecewaan dengan MENGURANGI ketidak puasan.
Mengurangi ketidak puasan dengan

MENINGKATKAN CINTA TULUS KARENA ALLAH.
Mengurangi ketidak puasan dengan
MENINGKATKAN KEPUASAN KEPADA PASANGAN.

Memaksimalkan PELAKSANAAN KEWAJIBAN, TANPA MENUNTUT HAK.
Mengurangi ketidak puasan dengan BERTAUBAT YANG BENAR.
Mengurangi ketidak puasan dengan KOMUNIKASI EFEKTIF
atas dasar KASIH SAYANG.

Mengurangi ketidak puasan dengan MEWUJUDKAN SYUKUR ATAS
SEMUA NIKMAT ALLAH.

DENGAN SEMANGAT & KERJA KERAS UNTUK MEMUASKAN
ISTERI-SUAMI SECARA MENDIDIK, KITA WUJUDKAN RT
YANG IBERKATI ALLAH. Amin.

FASTAQIM JUMADATS TSANIYAH (21)

SATU MENDIDIK SATU.

Pada zaman ini sarana da'wah sudah sangat beragam, mudah, terjangkau.
Kegiatan Da'wah juga sudah cukup banyak & beragam.

Tapi mengapa efektifitas Da'wah ini (secara umum) masih rendah?.
Masjid masih tetap sepi.
Kegitan membaca Al-qur'an di Rumah-rumah juga masih sepi.
Kebiasaan shalat tahajjud di Rumah-rumah juga masih sepi.
Kebiasaan shaum sunnah juga masih sepi.
Jumlah pahlawan & srikandi kemandirian ekonomi juga belum banyak bertambah.


RENDAHNY AEFEKTIFITAS DA'WAH,

DAPAT DISEBABKAN OLEH RENDAHNYA

KUALITAS PENGALAMAN PARA DA'I,

LEMAHNYA STRATEGI DA'WAH,

RAPUHNYA PERSATUAN ORGANISASI,

LEMAHNYA KADERISASI, DLL.

MARI KITA MEMIKIRKAN & MEMULAI PROGRAM
1 ORANG MEMBINA 1 ORANG,SECARA BERKESINAMBUNGAN.

(Inspirasi dari: Program SOS nya Bang Tiar, dan SMS nya Bang Rian)

Senin, 10 Januari 2011

Pendidikan Dinilai Dapat Harmonisasikan Kebutuhan Hidup

Pendidikan Dinilai Dapat Harmonisasikan Kebutuhan Hidup
Ilustrasi: Dunia Pendidikan
REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR--Rektor Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof Dr I Made Titib PhD menegaskan, pembangunan bidang pendidikan di Indonesia dituntut mampu menjembatani dan mengharmonisasikan berbagai kebutuhan hidup masyarakat yang cenderung semakin meningkat. "Semua bidang studi dan disiplin ilmu pengetahuan dalam setiap perguruan tinggi harus dilihat dari sudut pandang yang bersifat komprehensif, yakni dari segi hakikatnya," kata Rektor ISI Prof I Made Titib di Denpasar, Senin (10/1).

Ia mengatakan, pendidikan bidang studi dan disiplin ilmu pengetahuan menghadapi persoalan yang sangat rumit dalam menumbuhkembangkan potensi manusia. Filsafat pendidikan mempunyai persoalan sentral, yakni upaya mematangkan potensi manusia, berpikir dialektis menuju tingkat yang praktis, yakni aspek etika.

"Jika semua itu dapat diterapkan dengan baik dalam kegiatan pendidikan, serta pandangan hidup yang dijiwai oleh kejujuran, diharapkan mampu menumbuhkan kematangan spiritual, yakni wawasan yang luas menyangkut tujuan hidup," ujar Prof Titib.

Proses pendidikan yang menekankan pada upaya membentuk sikap yang dijiwai oleh nilai kebenaran, sekaligus mendorong perkembangan kematangan intelektual, yakni kreativitas dan keterampilan hidup. Demikian pula etika pendidikan lebih menekankan pada sistem kegiatan pendidikan terhadap pengembangan perilaku yang bertanggung jawab dan dijiwai oleh nilai keadilan.

Prilaku yang bertanggung jawab menurut Prof Titib akan mampu mematangkan emosional, yakni kemampuan mengendalikan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma agama dan hukum. Prof Titib menambahkan, upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya IHDN sedang berupaya mengembangkan pendidikan dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam ajaran Hindu terdapat nilai-nilai kepemimpinan yang universal tidak dibatasi ruang dan waktu, namun selalu relevan dengan perkembangan masyarakat. Nilai kepemimpinan tersebut lebih dari sumber filsafat, etik dan moral. Nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya sangat luhur dalam mencapai tujuan tertinggi, yakni kebahagiaan lahir dan batin.

Nilai konsep kepemimpinan dalam Hindu dijumpai dalam Veda, Arthasastra, Dharmasastra, Ramayana, Mahabharata dan kitab-kitab Purana. Model kepemimpinan mempunyai kaitan erat dengan tipologi dan ajaran moral seperti adanya dua kutub yang berlawanan atau warna hitam-putih, benar-salah atau baik dan buruk.

Meskipun dalam kenyataannya tidak ada seorang pemimpin yang benar-benar seratus persen baik atau sebaliknya, karena manusia memiliki dua sifat meliputi 'Daiwi Sampat', yakni sifat baik, jujur, benar yang seruji oleh sifat "Asuri Sampat" yakni sifat keraksasaan atau sifat buruk, kasar, tidak jujur dan serakah, ujar Prof Titib.
republika.co.id