Ilustrasi: Dunia Pendidikan
Ia mengatakan, pendidikan bidang studi dan disiplin ilmu pengetahuan menghadapi persoalan yang sangat rumit dalam menumbuhkembangkan potensi manusia. Filsafat pendidikan mempunyai persoalan sentral, yakni upaya mematangkan potensi manusia, berpikir dialektis menuju tingkat yang praktis, yakni aspek etika.
"Jika semua itu dapat diterapkan dengan baik dalam kegiatan pendidikan, serta pandangan hidup yang dijiwai oleh kejujuran, diharapkan mampu menumbuhkan kematangan spiritual, yakni wawasan yang luas menyangkut tujuan hidup," ujar Prof Titib.
Proses pendidikan yang menekankan pada upaya membentuk sikap yang dijiwai oleh nilai kebenaran, sekaligus mendorong perkembangan kematangan intelektual, yakni kreativitas dan keterampilan hidup. Demikian pula etika pendidikan lebih menekankan pada sistem kegiatan pendidikan terhadap pengembangan perilaku yang bertanggung jawab dan dijiwai oleh nilai keadilan.
Prilaku yang bertanggung jawab menurut Prof Titib akan mampu mematangkan emosional, yakni kemampuan mengendalikan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma agama dan hukum. Prof Titib menambahkan, upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya IHDN sedang berupaya mengembangkan pendidikan dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.
Dalam ajaran Hindu terdapat nilai-nilai kepemimpinan yang universal tidak dibatasi ruang dan waktu, namun selalu relevan dengan perkembangan masyarakat. Nilai kepemimpinan tersebut lebih dari sumber filsafat, etik dan moral. Nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya sangat luhur dalam mencapai tujuan tertinggi, yakni kebahagiaan lahir dan batin.
Nilai konsep kepemimpinan dalam Hindu dijumpai dalam Veda, Arthasastra, Dharmasastra, Ramayana, Mahabharata dan kitab-kitab Purana. Model kepemimpinan mempunyai kaitan erat dengan tipologi dan ajaran moral seperti adanya dua kutub yang berlawanan atau warna hitam-putih, benar-salah atau baik dan buruk.
Meskipun dalam kenyataannya tidak ada seorang pemimpin yang benar-benar seratus persen baik atau sebaliknya, karena manusia memiliki dua sifat meliputi 'Daiwi Sampat', yakni sifat baik, jujur, benar yang seruji oleh sifat "Asuri Sampat" yakni sifat keraksasaan atau sifat buruk, kasar, tidak jujur dan serakah, ujar Prof Titib.
republika.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar